Bacalah kutipan ini dan tafsirkan
apa maksudnya:
“Mengajarkan
anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama
adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
- Dari kutipan di atas, apa kaitannya
dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?
Hal yang saya pelajari dari kutipan
tersebut adalah kita diingatkan bahwa seorang anak memang perlu mempelajari
ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mampu membantunya untuk bertahan hidup
di dalam masyarakat, seperti misalnya kemampuan berhitung. Tetapi, selain
pengetahuan dan keterampilan, sejatinya ada hal yang lebih utama dari 2 hal
tersebut, yaitu etika atau moralnya sebagai manusia yang sesungguhnya.
Kaitannya dengan materi kali ini yaitu di mana seorang manusia yang menjadi
pemimpin harus memiliki kemampuan dalam beretika dan bermoral yang baik.
- Bagaimana nilai-nilai atau
prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat
memberikan dampak pada lingkungan kita?
Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang
kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada
lingkungan sekitar kita bila keputusan tersebut membawa energi positif.
Maksudnya adalah keputusan yang diambil bukanlah keputusan yang diputuskan
tanpa pertimbangan atau tanpa pemikiran yang matang. Keputusan yang telah
diambil pun juga harus bisa dipertanggungjawabkan dan tidak membuat kerugian di
satu pihak atau bersifat adil.
- Bagaimana Anda sebagai seorang
pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid,
dalam pengambilan keputusan Anda?
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, kontribusi yang saya berikan bagi murid dalam proses pembelajaran mereka terutama dalam pengambilan keputusan yaitu mengajarkan bagaimana mereka untuk bisa memahami alur, prinsip, serta cara untuk bisa membuat keputusan itu sendiri. Selain itu, mereka juga diajarkan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah keputusan. Sehingga, nantinya mereka bisa secara mandiri untuk belajar dalam mengambil keputusan yang baik dan tepat serta mampu bertanggung jawab atas hasil akhir keputusan itu sendiri.
·
Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan
ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul
ini? Jelaskan pendapat Anda.
Education is the
art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~
Maksud dari kutipan tersebut adalah seseorang yang memiliki
perilaku dan moral yang baik bisa dilihat dari pendidikannya. Bila orang
tersebut mampu menyerap ilmu dari sebuah proses pendidikan dengan baik,
biasanya hal itu secara otomatis akan tergambar pada sikap dan karakternya.
Tetapi, bila dia tidak mampu menyerap pendidikan dengan baik atau justru
mempelajari hal-hal yang kurang baik, hal tersebut juga agar tercermin pada
dirinya. Selanjutnya, pada modul ini, kita akan diajarkan untuk menjadi manusia
yang berperilaku etis sesuai dengan nilai-nilai kebajikan agar bisa menjadi
manusia yang seutuhnya.
-----
Menjadi seorang pendidik di era
generasi abad 21 saat ini bukanlah hal yang mudah. Menghadapi generasi Z atau
selanjutnya yang lebih dikenal dengan Gen-Z yang terlahir antara tahun
1995-2010, benar-benar membuat guru memeras pikiran dan tenaga. Hal tersebut nyatanya cukup memberikan
pengaruh mengenai bagaimana seorang pemimpin dapat mengambil keputusan,
terutama bagi seorang guru di lingkungan sekolah. Dan kenyataan saat ini pun
sesuai dengan pesan dari salah seorang sahabat Nabi yang mengatakan bahwa, “Didiklah anak sesuai dengan zamannya
karena mereka hidup pada zamannya bukan pada zamanmu.” (Ali Bin Abi Thalib)
Rangkuman
Kesimpulan Pembelajaran (Koneksi Antarmateri):
- Bagaimana filosofi Ki
Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Isi filosofi Pratap Triloka yang
disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara terdiri dari tiga semboyan yaitu ing
ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Semboyan
tersebut memiliki arti di depan memberi teladan, di tengah memberi motivasi dan
di belakang memberikan dukungan. Kaitan antara filosofi tersebut dengan seorang
pemimpin dalam penerapan pengambilan keputusan yaitu harus menyadari di mana letak
posisinya. Sebagai seorang guru, tentunya ia merupakan pemimpin dalam
pembelajaran. Sebagai seseorang yang mampu memberikan teladan, terutama dalam
hal pengambilan keputusan, seorang guru harus menunjukkan bahwa keputusannya
itu merupakan keputusan yang memberikan nilai kebajikan berupa rasa keadilan, sebuah
keputusan yang bijaksana, dan mampu untuk dipertanggungjawabkan. Selain itu,
keputusan yang diambil sebagai pemimpin juga harus menyelipkan motivasi
terhadap mereka yang menerima keputusan itu sendiri. Dan terakhir, meskipun
sebagai pengambil suatu keputusan, guru yang notabene adalah pemimpin
pembelajaran, tidak boleh berhenti memberikan dukungannya setelah sebuah keputusan
ditetapkan. Walaupun keputusan itu bukanlah suatu keputusan yang menyenangkan,
hendaknya tetap memberikan dukungan untuk terus menguatkan mereka yang menerima
keputusan tersebut.
- Bagaimana nilai-nilai yang tertanam
dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam
pengambilan suatu keputusan?
Dalam diri
individu masing-masing tentunya sudah pasti memiliki nilai-nilai kebajikan
secara lahiriah, seperti misalnya nilai tanggung jawab, berprinsip, keadilan,
integritas, komitmen, dan beberapa nilai lain yang berkenaan dengan bagaimana
kita menjadi seseorang yang mampu mengambil keputusan akhir dengan baik sebagai
pemimpin. Memutuskan sebuah keputusan akhir seyogyanya harus memperhatikan 3
prinsip dalam pengambilan keputusan, yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking),
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis
Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Sehingga keputusan akhir yang dihasilkan bukan hanya
merupakan keputusan yang berat sebelah atau tidak adil, tetapi justru sebuah
keputusan yang bersifat adil, bisa dipertanggungjawabkan, dan rasional.
- Bagaimana materi pengambilan
keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang
diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita
ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah
ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan
tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’
yang telah dibahas pada sebelumnya.
Pada sesi coaching,
kita diajarkan oleh fasilitator atau pendamping untuk mampu melakukan kegiatan
tersebut dengan baik sesuai dengan alurnya. Pada kenyataannya, di dalam sesi coaching
tanpa disadari telah diajarkan mengenai bagaimana seorang coach membantu
coachee untuk menyelesaikan dan memutuskan hasil akhir dari suatu
permasalahan yang dihadapinya. Sebelum keputusan tersebut bersifat final, coach
terus memberikan stimulasi atau beragam pertanyaan untuk membantu meyakinkan coachee
atas pemikirannya. Misalnya, bagaimana coachee akan penerapkan
keputusannya saat terjun ke lapangan, atau mengenai perkiraan kendala yang akan
terjadi, seputar rekan kerja atau kemungkinan kolaborasi dalam pengerjaannya,
dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sejenis. Hal tersebut bisa dilakukan
oleh coach kepada coachee hingga ia yakin bahwa keputusan akhirnya
sudah tepat.
- Bagaimana kemampuan guru dalam
mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh
terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kemampuan guru dalam mengelola dan
menyadari aspek sosial emosional sangat memberikan pengaruh dalam suatu
pengambilan keputusan terutama untuk persoalan seputar dilema etika. Sebab,
pengambilan keputusan yang tidak didasarkan pada aspek sosial emosional bisa
memberikan dampak kepada murid maupun guru itu sendiri. Pengambilan keputusan
yang tepat dan memperhatikan aspek sosial emosi dapat mempengaruhi beberapa
hal, seperti peningkatan perilaku yang positif, mampu mengurangi angka perilaku
negatif pada lingkungan belajar di sekolah, juga pengaruh terhadap si pembuat keputusan
itu sendiri, seperti tingkat stres yang menurun dan terjadinya peningkatan
performa akademik murid. Dengan kata lain, sebuah keputusan yang didasarkan
dengan pertimbangan sosial emosional akan memberikan pondasi yang kuat, bukan
hanya untuk murid tetapi juga guru dan orang-orang disekitarnya untuk mencapai
kesuksesan baik di bidang akademik maupun kesejahteraan psikologis.
- Bagaimana pembahasan studi kasus
yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang
dianut seorang pendidik?
Pembahasan studi
kasus yang berfokus kepada masalah moral atau etika membutuhkan pemikiran serta
langkah-langkah yang tepat untuk mencapai hasil akhir yang baik. Seorang
pendidik harus kembali mengingat nilai-nilai diri sebagai guru yang terdiri
atas nilai berpihak kepada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan
inovatif. Selain itu, seorang pendidik juga harus memperhatikan nilai-nilai
kebajikan dalam hasil akhir keputusannya. Tak sampai di situ, seorang pendidik
juga harus memperhatikan kondisi sosial emosionalnya. Maka, ada banyak aspek
yang memperngaruhi dan perlu menjadi pertimbangan seorang pendidik dalam
menyelesaikan kasus atau masalah terkait moral atau etika yang terjadi di
lingkungannya.
- Bagaimana pengambilan keputusan
yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan
keputusan yang tepat tentunya telah melalui proses yang penuh dengan
pertimbangan tanpa melupakan nilai-nilai kebajikan didalamnya. Selain itu,
pengambilan keputusan ada baiknya mempertimbangkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan
9 alur langkah pengambilan keputusan akhir. Serta tak lupa, memasukkan unsur
sosial dan emosional agar hasil akhir yang diputuskan bisa membuahkan hasil
yang optimal, dapat memberi pengaruh yang positif, dan mampu menciptakan
kondisi yang aman, nyaman, dan kondusif.
- Apakah tantangan-tantangan di
lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan
paradigma di lingkungan Anda?
Paradigma
mengenai pengambilan keputusan yang kita ketahui bersama ada 4 jenis, yaitu
individu lawan kelompok (individual vs community), rasa keadilan lawan
rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs
lotalty), dan jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long
term). Dari 4 paradigma tersebut, sesungguhnya sudah pernah saya alami
semua terkait dengan tantangan yang saya alami di lingkungan dalam menjalankan
keputusan terkait kasus dilema etika. Namun, paradigma yang paling sering
dihadapi ialah paradigma individu lawan kelompok. Perkara individu ini pun erat
hubungannya dengan rasa ego seseorang demi kepentingan pribadi. Hal yang
semacam ini menjadi persoalan yang cukup sulit diatasi, apalagi bila berkenaan
dengan kasus dilema etika. Selain itu, paradigma lain yang juga cukup sering
terjadi yaitu paradigma rasa keadilan lawan rasa kasihan. Terutama bila
berkenaan dengan persoalan yang menyangkut murid. Sebab, selain
mempertimbangkan bagaimana nantinya sikap dan karakter dari murid, tetapi juga
harus memikirkan mentalnya secara psikologis bila hasil akhir keputusan terkait
masalah dilema etika benar-benar telah diputuskan.
- Apakah pengaruh pengambilan
keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat
untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Seperti yang pernah disampaikan oleh
Ki Hajar Dewantara, kita harus bisa memanusiakan manusia terutama kepada murid.
Salah satu cara ialah dengan melihat bakat dan minat masing-masing. Guna
memaksimalkan potensi tersebut, guru bisa menerapkan pembelajaran
berdiferensiasi, salah satunya dengan melihat potensi berdasarkan gaya belajar
murid. Pada kegiatan ini, guru bisa menyesuaikan apa dan bagaimana memberikan
pembelajaran kepada murid sesuai dengan minatnya. Misalnya, guru bisa melakukan
listening bagi murid yang memiliki kemampuan belajar audio atau
melakukan kegiatan belajar di luar ruangan untuk murid yang memiliki gaya
belajar kinestetik. Sehingga, hal seperti ini diharapkan bisa mengakomodir
minat murid untuk meingkatkan minat belajarnya.
- Bagaimana seorang pemimpin
pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau
masa depan murid-muridnya?
Sebuah hasil keputusan dapat
memberikan pengaruhi positif maupun negatif kepada murid. Sebagai contoh, keputusan
yang tidak tepat atau terlalu berat bagi murid bisa sangat mempengaruhi masa
depan murid. Terlebih lagi bila murid tersebut salah memahami hasil keputusan
yang diberikan atau cara penyampaian yang salah dari guru saat mengumumkan
hasil keputusannya. Maupun sebaliknya. Maka dari itu, sangat penting
mempertimbangkan hasil keputusan berdasarkan kebutuhan dan keberpihakan kepada
murid. Seorang pemimpin pembelajaran harus benar-benar mengikuti alur Langkah
pengambilan keputusan agar nantinya Keputusan yang dihasilkan tidak memberikan
efek negatif, tetapi bagaimana supaya sebuah keputusan itu tetap bernilai
memanusiakan manusia sehingga timbul rasa nyaman dan aman bagi murid. Dan
perasaan tersebut menjadi bibit baik yang bisa dibawanya untuk meraih masa
depan.
- Apakah kesimpulan akhir yang
dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya
dengan modul-modul sebelumnya?
Pada modul kali
ini, saya mencoba menarik kesimpulan bahwa setiap hal yang kita lakukan
terutama ketika mengalami sebuah kasus, kita harus bisa mengambil kesimpulan
yang baik dan tepat. Proses dalam pengambilan kesimpulan itu pun tidak bisa
sembarangan dilakukan. Kita harus benar-benar memahami dan mengenal situasi
permasalahan. Selanjutnya, perlu mempertimbangkan paradigma, prinsip, serta
alur langkah pengambilan keputusan. Modul-modul sebelumnya yang telah
dipelahari menjadi kunci penguatan atau sebagai bahan untuk evaluasi sebelum
akhirnya mampu memutuskan hasil akhir keputusan. Sehingga, keputusan yang
didapatkan memiliki dasar pemikiran yang kuat.
- Sejauh mana pemahaman Anda tentang
konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika
dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip
pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Menurut
pemahaman saya, dilema etika (benar vs benar) merupakan salah satu hal
penyelesaian masalah di mana situasi sulit harus memilih antara moral keduanya
benar tetapi bertentangan dalam pengambilan keputusan. Sedangkan untuk bujukan
moral (salah vs benar) merupakan situasi di mana harus memilih yang memang
benar dan memang salah. Biasanya untuk bujukan moral ini terdapat faktor rayuan
dari pihak luar. Antara dilema etika dan bujukan moral memerlukan sikap tenang
dan bijaksana dalam pengambilan keputusannya. Untuk situasi dilema etika, ada 4
prinsip yang harus diperhatikan, yaitu individu lawan kelompok, rasa keadilan
lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, dan terakhir jangka pendek lawan
jangka panjang. Masing-masing dari prinsip terkadang harus menentang salah satu
dari nilai-nilai kebajikan dan dapat digunakan untuk membantu pengelompokkan
permasalahan. Selanjutnya, 3 prinsip pengambilan yang harus diketahui yaitu
berbasis hasil akhir, berbasis peraturan, dan berbasis rasa peduli. Prinsip-prinsip
tersebut pun juga masuk menjadi dasar sebelum memutuskan hasil akhir
berdasarkan resolusinya. Dan terakhir, 9 langkah-langkah pengambilan dan
pengujian keputusan akhir merupakan panduan yang bisa kita gunakan manakala
terbentur dengan situasi masalah yang tengah dihadapi. Dari ketiga hal
tersebut, menurut saya pribdai, tidak ada yang aneh atau di luar nalar. Justru,
hal-hal yang disampaikan sangat membantu dalam memutuskan hasil akhir untuk
penyelesaian masalah.
- Sebelum mempelajari modul ini,
pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam
situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda
pelajari di modul ini?
Saya pernah
berada dalam situasi moral dilema sebelum mempelajari modul ini. Ketika dalam
situasi tersebut, hal yang saya lakukan tidak begitu jauh berbeda ketika saya
belum mempelajari modul 3.1 ini dan setelah saya mempelajarinya. Perbedaan
hanya pada faktor internal pribadi, yaitu masih adanya pengambilan keputusan
berdasarkan ego diri. Sedangkan setelah saya mempelajari modul, saya harus
lebih bisa berpikir rasional dalam mengambil suatu keputusan akhir dan juga
mempertimbangkan paradigma, prinsip, serta alur dalam pengambilan keputusan
akhir.
- Bagaimana dampak mempelajari
konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara
Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran
modul ini?
Dampak yang saya rasakan setelah
mempelajari modul ini beserta pengalaman yang saya dengarkan setelah melakukan
wawancara bersama para pemimpin sekolah ialah saya menjadi lebih berhati-hati
dalam mengambil keputusan akhir serta sudah lebih memahami apa yang dimaksud
dengan dilema etika dan bujukan moral. Maksudnya ialah bila sebelumnya saya
hanya mengambil keputusan masih terbawa emosi dan pada akhirnya keputusan yang
saya putuskan terkadang masih ada efek lanjutannya. Alur pengambilan
keputusannya pun belum sesuai dengan ketentuan yang ada. Namun setelah mempelajari materi yang terdapat
pada modul ini, saya jadi lebih memahami alur dalam menyelesaikan suatu kasus
berdasarkan konsep 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan
keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
- Seberapa penting mempelajari topik
modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang
pemimpin?
Sebagai seorang
individu dan terutama sebagai seorang pemimpin dalam pembelajaran, topik pada
modul ini mampu membantu saya dalam mengambil sebuah keputusan. Sebelum sebuah
keputusan akhir diputuskan, saya terlebih dahulu mampu mempelajari apakah kasus
yang saya tangani masuk dalam area dilema etika atau bujukan moral. Sebab, beda
kategori, bagi saya pribadi tentu beda pula penanganannya. Kemudian, saya juga
harus memperhatikan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan
keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan agar hasil akhir
keputusan saya tidak menimbulkan efek samping lanjutan atau justru malah
memihak di satu pihak saja.
Tetap semangat dan selalu menginspirasi bu Merly
BalasHapus