| sumber: www.slideshare.net |
Kaitan modul 2.2 dengan modul-modul
sebelumnya yaitu:
Modul 1.1 – Filosofi Pendidikan KHD
Pada bagian ini, KHD mengatakan
bahwa murid memiliki kodrat alam dan kodrat zaman. Secara lahiriah, sosial dan
emosional ini bisa dikategorikan pada kodrat alam. Guna membimbing murid agar
kodrat alamnya tetap pada jalur yang benar, maka pembelajaran di modul 2.2 ini
bisa membantu guru untuk mempertahankan hal tersebut.
Modul 1.2 – Nilai dan Peran Guru
Penggerak
Sebagai guru penggerak, sudah
pasti sangat membutuhkan pemahaman dan penguasaan terhadap kompetensi ini. Guru
penggerak paham akan perubahan yang ada sesuai zaman. Perubahan itu sendiri
bisa membawa keuntungan maupun gangguan. Dengan demikian, seorang guru penggerak
perlu membangun keselarasan atau koherensi. Maka dari itu, seorang guru
penggerak diharapkan dapat beranjak dari keadaan diri yang kurang berkesadaran diri
menuju ke diri yang berkesadaran penuh dengan cara pengelolaan KSE.
Modul 1.3 – Visi Guru Penggerak
Untuk mewujudkan perubahan menuju
ke arah yang lebih baik, seorang guru memerlukan visi untuk membantu langkah perwujudannya.
Visi tersebut dapat dilakukan dengan melakukan prakarsa perubahan dengan
menerapkan PSE pada diri seorang guru penggerak.
Modul 1.4 – Budaya Positif
Pada modul ini, seorang guru
diajarkan untuk bisa membangun budaya positif di sekolah. Salah satu hal yang
menjadi perhatian khusus untuk mewujudkan budaya positif tersebut ialah dengan memiliki
tingkah dan laku sosial dan emosi yang positif. Maka dari itu, materi yang ada
pada modul 2.2 ini sangat berpengaruh secara langsung. Tidak hanya sebatas
kepada guru saja sebagai seorang pendidik, tetapi warga lain (PTK) di seluruh
sekolah juga ikut diperhatikan, sehingga budaya positif di sekolah akan lebih
cepat dan mudah terwujud berkat kolaborasi dari semua pihak.
Modul 2.1 – Pembelajaran diferesnsiasi
Pembelajaran diferensiasi selama
ini lebih banyak dilihat hanya dari bagaimana mengelompokkan murid berdasarkan
gaya belajarnya saja, bukan dari apa kebutuhan dasarnya maupun bagaimana
kondisi sosial dan emosinya. Terkait dengan hal tersebut, seyogyanya seorang
guru juga harus mempertimbangkan kondisi sosial dan emosi muridnya dalam proses
pembelajaran berlangsung. Dengan pertimbangan KSE, seorang guru juga bisa menjadikan
hal tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam memilih pembelajaran
berdiferensiasi bagi murid-muridnya di kelas.
Sebelum mempelajari modul ini,
saya berpikir bahwa kompetensi sosial dan emosional merupakan hal yang hanya
perlu dipahami oleh guru saja sebagai pendidik untuk bisa memahami bagaimana
karakter muridnya sehingga seorang guru harus benar-benar memahami situasi sosial
dan emosional muridnya.
Setelah mempelajari modul ini, ternyata kompetensi ini bukan hanya harus
dimiliki oleh seorang guru yang menghadapi murid-muridnya secara langsung di
kelas tetapi juga sepatutnya dipelajari dan dipahami juga oleh tenaga pendidik
di lingkungan sekolah.
Berkaitan dengan kebutuhan belajar
dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di
sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan
psikologis (well-being), 3 hal mendasar dan penting yang saya
pelajari adalah peningkatan 5 kompetensi sosial dan emosional, lingkungan
belajar yang suportif, serta peningkatan sikap pada diri sendiri, respek dan
toleran terhadap orang lain dan lingkungan sekolah.
5 kompetensi sosial dan emosional
yang dimaksud terdiri atas kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan
berelasi, dan pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab. Lingkungan belajar
yang suportif dapat meliputi keadaan di kelas, di sekolah, serta keluarga dan
komunitas. Selanjutnya, peningkatan sikap pada diri sendiri, respek dan toleran
terhadap orang lain dan lingkungan sekolah dapat diwujudkan dengan menerapkan 4
indikator pembelajaran sosial dan emosional yang berkaitan dengan kelas dan
sekolah antara lain pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktek mengajar guru
dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan
KSE pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah.
Terkait dengan pembahasan sebelumnya,
perubahan yang akan saya terapkan di kelas dan sekolah terkait murid-murid yaitu
saya akan memasukkan unsur-unsur dalam KSE ke dalam rancangan pembelajaran dan
mengaplikasikannya di kelas. Sedangkan bagi rekan sejawat sesama guru, untuk
menginformasikan secara massal mengenai KSE (belajar), memberikan contoh kepada
rekan sejawat sebagai teladan, serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk
mengembangkan kompetensi sosial dan emosi masing-masing rekan sejawat dengan
kolaborasi antarsesama.
Komentar
Posting Komentar