Pada jurnal dwi mingguan kali ini, saya akan berbagi mengenai pengalaman selama mempelajari modul 2.2 – Pembelajaran Sosial-Emosional dengan odel DEAL (Description, Examination, and Articulation of Learning)
Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan murid, guru, dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai 5 Kompetensi Sosial dan Emosional. Pada modul 2.2 ini, CGP mempelajari bagaimana menciptakan pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan sosial dan emosional murid. Konsep pembelajaran ini berawal dari teori Kecerdasan Emosi Daniel Goleman yang dikembangkan menjadi kerangka CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning).
Berdasarkan yang saya pelajari
tersebut, saya baru mengetahui bahwa poin mengenai sosial dan emosional ini
bisa dimasukkan dalam rancangan pembelajaran. Konsep yang dikembangkan Daniel
Goleman ini nyatanya bisa memberikan pengaruh positif tidak hanya untuk murid dan
guru semata, tetapi semua komponen lain yang ada di lingkungan sekolah, seperti
tenaga pendidik. Salah satu pengaplikasian yang pernah saya coba lakukan yaitu
pada kegiatan panen karya P5 di sekolah. Saat itu, selain menyajikan hasil
projek P5 dari murid-murid di kelas yang saya bimbing, saya juga menyediakan
beberapa emoji yang menggambarkan beberapa suasana hati. Murid yang berkunjung
ke stand, saya beri kesempatan untuk menembakkan emoji sesuai dengan
kondisi hatinya menggunakan tembakan mainan. Bagi murid yang berhasil mengenai
sasaran sesuai dengan emoji perasaan hatinya, kemudian diberikan hadiah berupa
beberapa bungkus permen. Selain itu, suatu kali pada saat jam pembelajaran di
kelas, saya pernah juga menyediakan kumpulan huruf yang disusun secara acak,
namun di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengungkapkan tentang perasaan,
seperti sedih, senang, bahagia, dan lainnya. Saya meminta murid untuk menemukan
kata-kata tersebut. Setelah kata-kata yang tersembunyi itu lengkap ditemukan, kemudian
barulah saya meminta mereka memilih mana suasana yang sesuai dengan kondisi
mereka saat itu. Kala itu, saya belum mengenal lebih dalam mengenai PSE ini.
Bila dibandingkan pada pengalaman
yang sebelumnya pernah saya lakukan, PSE ini sekedar hanya saya jadikan sebagai
sebuah permainan atau games bagi murid. Namun, setelah saya mendapatkan pelajaran
bahwa PSE ini merupakan salah satu hal yang cukup mendapat perhatian penting
bagi seluruh komponen yang ada di sekolah, saya pun mencoba merancang bagaimana
agar aspek sosial dan emosional ini bisa dipahami dan diterapkan secara massal
di sekolah. Sehingga bukan hanya sebatas guru yang menyelipaknnya untuk diaplikasikan
kepada murid, tetapi semuanya saling berkolaborasi untuk menerapkan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif.
Hal-hal yang akan saya lakukan untuk
perubahan di masa mendatang ialah dengan hal yang paling mendasar terlebih
dahulu di dalam pembelajaran. Saya akan memperbaiki RPP atau modul ajar yang
biasa saya buat dengan memasukkan unsur KSE di dalamnya. Tak hanya itu, saya
akan mencoba mengaplikasikan hal tersebut di lapangan pada saat mengajar di
kelas. Selain kepada murid, sudah barang tentu juga dengan rekan sejawat sesame
guru dan juga tenaga pendidik lainnya. Bila saya belum mampu mengajak mereka
secara terbuka, setidaknya saya sendiri dulu yang harus menjadi contoh atau
teladan bagi mereka. Saya perlu membangun kolaborasi dengan semua komponen di
sekolah agar komponen sosial dan emosional ini dapat terbangun dengan baik dan
menciptakan kenyamanan untuk semua orang di lingkungan sekolah.

Komentar
Posting Komentar