Langsung ke konten utama

Jurnal Dwi Mingguan 6 - Model DEAL (Description, Examination, and Articulation of Learning)

Pada jurnal dwi mingguan kali ini, saya akan berbagi mengenai pengalaman selama mempelajari modul 2.2 – Pembelajaran Sosial-Emosional dengan odel DEAL (Description, Examination, and Articulation of Learning)

Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan murid, guru, dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai 5 Kompetensi Sosial dan Emosional. Pada modul 2.2 ini, CGP mempelajari bagaimana menciptakan pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan sosial dan emosional murid. Konsep pembelajaran ini berawal dari teori Kecerdasan Emosi Daniel Goleman yang dikembangkan menjadi kerangka CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning). 

Berdasarkan yang saya pelajari tersebut, saya baru mengetahui bahwa poin mengenai sosial dan emosional ini bisa dimasukkan dalam rancangan pembelajaran. Konsep yang dikembangkan Daniel Goleman ini nyatanya bisa memberikan pengaruh positif tidak hanya untuk murid dan guru semata, tetapi semua komponen lain yang ada di lingkungan sekolah, seperti tenaga pendidik. Salah satu pengaplikasian yang pernah saya coba lakukan yaitu pada kegiatan panen karya P5 di sekolah. Saat itu, selain menyajikan hasil projek P5 dari murid-murid di kelas yang saya bimbing, saya juga menyediakan beberapa emoji yang menggambarkan beberapa suasana hati. Murid yang berkunjung ke stand, saya beri kesempatan untuk menembakkan emoji sesuai dengan kondisi hatinya menggunakan tembakan mainan. Bagi murid yang berhasil mengenai sasaran sesuai dengan emoji perasaan hatinya, kemudian diberikan hadiah berupa beberapa bungkus permen. Selain itu, suatu kali pada saat jam pembelajaran di kelas, saya pernah juga menyediakan kumpulan huruf yang disusun secara acak, namun di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengungkapkan tentang perasaan, seperti sedih, senang, bahagia, dan lainnya. Saya meminta murid untuk menemukan kata-kata tersebut. Setelah kata-kata yang tersembunyi itu lengkap ditemukan, kemudian barulah saya meminta mereka memilih mana suasana yang sesuai dengan kondisi mereka saat itu. Kala itu, saya belum mengenal lebih dalam mengenai PSE ini.

Bila dibandingkan pada pengalaman yang sebelumnya pernah saya lakukan, PSE ini sekedar hanya saya jadikan sebagai sebuah permainan atau games bagi murid. Namun, setelah saya mendapatkan pelajaran bahwa PSE ini merupakan salah satu hal yang cukup mendapat perhatian penting bagi seluruh komponen yang ada di sekolah, saya pun mencoba merancang bagaimana agar aspek sosial dan emosional ini bisa dipahami dan diterapkan secara massal di sekolah. Sehingga bukan hanya sebatas guru yang menyelipaknnya untuk diaplikasikan kepada murid, tetapi semuanya saling berkolaborasi untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif.

Hal-hal yang akan saya lakukan untuk perubahan di masa mendatang ialah dengan hal yang paling mendasar terlebih dahulu di dalam pembelajaran. Saya akan memperbaiki RPP atau modul ajar yang biasa saya buat dengan memasukkan unsur KSE di dalamnya. Tak hanya itu, saya akan mencoba mengaplikasikan hal tersebut di lapangan pada saat mengajar di kelas. Selain kepada murid, sudah barang tentu juga dengan rekan sejawat sesame guru dan juga tenaga pendidik lainnya. Bila saya belum mampu mengajak mereka secara terbuka, setidaknya saya sendiri dulu yang harus menjadi contoh atau teladan bagi mereka. Saya perlu membangun kolaborasi dengan semua komponen di sekolah agar komponen sosial dan emosional ini dapat terbangun dengan baik dan menciptakan kenyamanan untuk semua orang di lingkungan sekolah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Izinkan saya Patrisia Merly, S.Pd. untuk berbagi kepada teman-teman guru hebat semua mengenai materi yang saya peroleh dalam kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP).  Kita sering mendengar kata ‘pengajaran’ dan ‘pendidikan’. Secara umum, banyak yang menganggap bahwa ini adalah dua hal yang sama. Namun nyatanya, dua kata tersebut pada dasarnya memang memiliki arti berbeda. Pengajaran sendiri masuk dalam lingkup pendidikan, maksudnya pengajaran adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah untuk hidup anak-anak, baik itu secara lahir maupun batin. Sedangkan pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya yaitu pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Rangkuman Materi Modul 3.1 (Koneksi Antar Materi)

Bacalah kutipan ini dan tafsirkan apa maksudnya: “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” (Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best). Bob Talbert Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini? Hal yang saya pelajari dari kutipan tersebut adalah kita diingatkan bahwa seorang anak memang perlu mempelajari ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mampu membantunya untuk bertahan hidup di dalam masyarakat, seperti misalnya kemampuan berhitung. Tetapi, selain pengetahuan dan keterampilan, sejatinya ada hal yang lebih utama dari 2 hal tersebut, yaitu etika atau moralnya sebagai manusia yang sesungguhnya. Kaitannya dengan materi kali ini yaitu di mana seorang manusia yang menjadi pemimpin harus memiliki kemampuan dalam beretika dan bermoral yang baik. Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dala...

Koneksi Antar Materi Modul 2.2 - Pembelajaran Sosial-Emosional

sumber: www.slideshare.net Pada modul kali ini bahasan yang dijabarkan yaitu mengenai pembelajaran sosial dan emosional (PSE). Secara garis besar hal-hal yang dipelajari antara lain menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis ( well-being ) secara optimal; mengembangkan 5 kompetensi sosial dan emosional yang terdiri dari kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan Keputusan yang bertanggung jawab; pemahaman mengenai konsep kesadaran penuh ( mindfulness ) sebagai dasar pengembangan 5 kompetensi sosial emosional (KSE); dan implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan sekolah melalui 4 indikator, yaitu pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademi, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan pembelajaran sosial emosional pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah.