Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam hebat untuk guru-guru di Indonesia!
Kali ini, saya akan berbagi sedikit cerita mengenai pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan apa yang saya pelajari selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 11 tahun 2024 ini.
Pembelajaran diferensiasi merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas guna memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan yang mengakui bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda-beda. Penerapan pembelajaran diferensiasi dapat dilihat dari kebutuhan murid, seperti kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar. Sebagai salah satu contoh, guru bisa melihat keberagam yang ada pada muridnya dari 3 macam gaya belajarnya, yaitu visual, audio, dan kinestetik. Selain itu, guru juga bisa melihat dari bakat dan minat murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, siswa diberikan pilihan-pilihan yang bervariasi dalam hal materi pembelajaran, metode pengajaran, dan penilaian. Pada pembelajaran diferensiasi, guru harus bisa mengenal dan mengerti murid dengan jelas atau bisa memetakan kemampuan murid, tetapi guru tidak boleh berat sebelah untuk menghindari kecemburuan antarmurid.
Seperti materi yang telah di
pelajari pada modul 1, kita tahu bahwa harus bisa menuntun murid berdasarkan
kodratnya. Sedangkan kodrat murid itu sendiri, tidaklah terdiri dari satu macam
saja, tetapi beraneka ragam. Guna menangani persoalan tersebut, pembelajaran berdiferensiasi
bisa dikatakan sebagai salah satu cara atau jalan keluar untuk menangani kasus
keberagaman yang ada di kelas. Ada tiga strategi yang bisa dilakukan di
lapangan untuk melakukan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi ini, yaitu
dengan pemilihan konten (diferensiasi konten), cara pelaksanaannya (diferensiasi
proses), serta terakhir sesuaikan bentuk hasil kerja menurut minat dan bakat
murid (diferensiasi produk).
Selain dapat memenuhi kebutuhan
dasar murid akan kodratnya yang beragam, pembelajaran berdiferensiasi ini juga
mampu meningkatkan nilai-nilai Guru Penggerak. Pembelajaran berdiferensiasi
sangat mengutamakan kebutuhan murid. Dapat di ambil Kesimpulan sederhana bahwa
dengan menjadikan kebutuhan murid sebagai patokan utama, seorang guru telah
menerapkan nilai keberpihakan pada murid. Seorang Guru Penggerak pun sangat
mengutamakan kepentingan murid dalam melakukan kegiatan pembelajarannya. Selain
itu, nilai lain yang juga bisa tergambar dari penerapan pembelajaran
berdiferensiasi bagi Guru Penggerak ialah nilai inovatif. Dengan model
pembelajaran berdiferensiasi, diharapkan seorang guru mampu memunculkan ide
segar dan tepat guna untuk mengajarkan murid-murid yang memiliki keberagaman
minat.
Selanjutnya, bila kita kaitkan pembelajaran
berdiferensiasi dengan nilai-nilai kebajikan yang terdapat pada Profil Pelajar
Pancasila, menurut hemat saya, murid dapat bekerja dengan mandiri, bernalar
kritis serta kreatif. Maka dari itu, pembelajaran dengan menggunakan model
berdiferensiasi ini tidak hanya bermanfaat di satu sisi saja, tetapi juga
bermanfaat di bagian sisi lainnya. Harapa
nnya, pembelajaran berdiferensiasi ini
dapat diterapkan oleh seluruh guru hebat di Indonesia untuk semakin memajukan pendidikan
anak-anak Indonesia tanpa melupakan kodrat alam dan kodrat zaman mereka sesuai
dengan pesan yang pernah disampaikan oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar
Dewantara.
Demikian cerita yang bisa saya bagikan untuk guru-guru hebat semua. Mari bersama untuk saling tergerak, bergerak, dan menggerakkan!
Komentar
Posting Komentar