Langsung ke konten utama

Pembelajaran Berdiferensiasi - Koneksi Antar Materi Modul 2.1

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam hebat untuk guru-guru di Indonesia!
Kali ini, saya akan berbagi sedikit cerita mengenai pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan apa yang saya pelajari selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 11 tahun 2024 ini.

Pembelajaran diferensiasi merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas guna memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan yang mengakui bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda-beda. Penerapan pembelajaran diferensiasi dapat dilihat dari kebutuhan murid, seperti kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar. Sebagai salah satu contoh, guru bisa melihat keberagam yang ada pada muridnya dari 3 macam gaya belajarnya, yaitu visual, audio, dan kinestetik. Selain itu, guru juga bisa melihat dari bakat dan minat murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, siswa diberikan pilihan-pilihan yang bervariasi dalam hal materi pembelajaran, metode pengajaran, dan penilaian. Pada pembelajaran diferensiasi, guru harus bisa mengenal dan mengerti murid dengan jelas atau bisa memetakan kemampuan murid, tetapi guru tidak boleh berat sebelah untuk menghindari kecemburuan antarmurid.

Seperti materi yang telah di pelajari pada modul 1, kita tahu bahwa harus bisa menuntun murid berdasarkan kodratnya. Sedangkan kodrat murid itu sendiri, tidaklah terdiri dari satu macam saja, tetapi beraneka ragam. Guna menangani persoalan tersebut, pembelajaran berdiferensiasi bisa dikatakan sebagai salah satu cara atau jalan keluar untuk menangani kasus keberagaman yang ada di kelas. Ada tiga strategi yang bisa dilakukan di lapangan untuk melakukan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi ini, yaitu dengan pemilihan konten (diferensiasi konten), cara pelaksanaannya (diferensiasi proses), serta terakhir sesuaikan bentuk hasil kerja menurut minat dan bakat murid (diferensiasi produk).  

Selain dapat memenuhi kebutuhan dasar murid akan kodratnya yang beragam, pembelajaran berdiferensiasi ini juga mampu meningkatkan nilai-nilai Guru Penggerak. Pembelajaran berdiferensiasi sangat mengutamakan kebutuhan murid. Dapat di ambil Kesimpulan sederhana bahwa dengan menjadikan kebutuhan murid sebagai patokan utama, seorang guru telah menerapkan nilai keberpihakan pada murid. Seorang Guru Penggerak pun sangat mengutamakan kepentingan murid dalam melakukan kegiatan pembelajarannya. Selain itu, nilai lain yang juga bisa tergambar dari penerapan pembelajaran berdiferensiasi bagi Guru Penggerak ialah nilai inovatif. Dengan model pembelajaran berdiferensiasi, diharapkan seorang guru mampu memunculkan ide segar dan tepat guna untuk mengajarkan murid-murid yang memiliki keberagaman minat.

Selanjutnya, bila kita kaitkan pembelajaran berdiferensiasi dengan nilai-nilai kebajikan yang terdapat pada Profil Pelajar Pancasila, menurut hemat saya, murid dapat bekerja dengan mandiri, bernalar kritis serta kreatif. Maka dari itu, pembelajaran dengan menggunakan model berdiferensiasi ini tidak hanya bermanfaat di satu sisi saja, tetapi juga bermanfaat di bagian sisi lainnya. Harapa
nnya, pembelajaran berdiferensiasi ini dapat diterapkan oleh seluruh guru hebat di Indonesia untuk semakin memajukan pendidikan anak-anak Indonesia tanpa melupakan kodrat alam dan kodrat zaman mereka sesuai dengan pesan yang pernah disampaikan oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara.

Demikian cerita yang bisa saya bagikan untuk guru-guru hebat semua. Mari bersama untuk saling tergerak, bergerak, dan menggerakkan! 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Izinkan saya Patrisia Merly, S.Pd. untuk berbagi kepada teman-teman guru hebat semua mengenai materi yang saya peroleh dalam kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP).  Kita sering mendengar kata ‘pengajaran’ dan ‘pendidikan’. Secara umum, banyak yang menganggap bahwa ini adalah dua hal yang sama. Namun nyatanya, dua kata tersebut pada dasarnya memang memiliki arti berbeda. Pengajaran sendiri masuk dalam lingkup pendidikan, maksudnya pengajaran adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah untuk hidup anak-anak, baik itu secara lahir maupun batin. Sedangkan pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya yaitu pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Rangkuman Materi Modul 3.1 (Koneksi Antar Materi)

Bacalah kutipan ini dan tafsirkan apa maksudnya: “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” (Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best). Bob Talbert Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini? Hal yang saya pelajari dari kutipan tersebut adalah kita diingatkan bahwa seorang anak memang perlu mempelajari ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mampu membantunya untuk bertahan hidup di dalam masyarakat, seperti misalnya kemampuan berhitung. Tetapi, selain pengetahuan dan keterampilan, sejatinya ada hal yang lebih utama dari 2 hal tersebut, yaitu etika atau moralnya sebagai manusia yang sesungguhnya. Kaitannya dengan materi kali ini yaitu di mana seorang manusia yang menjadi pemimpin harus memiliki kemampuan dalam beretika dan bermoral yang baik. Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dala...

Koneksi Antar Materi - Modul 1.3

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Rekan guru semua, kali ini saya akan menjabarkan mengenai penugasan untuk modul 1.3 yaitu Koneksi Antar Materi (KAM) 1.3. Pada bagian ini, CGP diminta untuk merefleksikan dan mengaitkan pemahaman antar modul  yang telah dipelajari hingga kini, dengan merespon pertanyaan berikut ini: