Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam guru penggerak!
Tak
terasa, perjalanan saya sebagai CGP Angkatan 11 sudah sampai pada modul akhir
bagian 1 yaitu di modul 1.4. Berikut saya bagikan pengalaman yang saya rasakan
selama mempelajari modul ini beserta pertanyaan-pertanyaan pemandunya.
- Buatlah sebuah kesimpulan mengenai peran Anda dalam
menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti
seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan
penghargaan), posisi kontrol restitusi,
keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya
dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar
Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, serta Visi Guru
Penggerak.
Pada modul 1.4 ini, ada beragam materi pembelajaran yang bersama-sama kita ambil ilmu serta manfaatnya bagi kegiatan sehari-hari sebagai seorang guru. Di awal modul, kita mempelajari mengenai disiplin positif dan nilai-nilai Kebajikan universal, kemudian dilanjutkan dengan materi tentang teori motivasi, hukuman dan penghargaan, restitusi. Selanjutnya, kita juga mempelajari mengenai keyakinan kelas, kebutuhan dasar manusia dan dunia berkualitas, dan lima posisi kontrol. Serta materi terakhir ditutup dengan segitiga restitusi. Materi-materi yang disuguhkan benar-benar menarik serta sangat dekat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang guru.
Secara
kuantitas, materi yang harus dipelajari pada modul ini lebih banyak jumlahnya
daripada di modul-modul sebelumnya. Tetapi, secara kualitas, materi yang
disajikan pada modul 1.4 ini sangat padat dan berisi. Hal ini justru bisa
memperkuat pengetahuan yang sudah kita terima sebelumnya di modul 1.1 hingga
1.3. Hal ini yang membuat perasaan saya campur aduk. Bagaimana tidak, ada
sedikit syok terapi pada modul ini ketika melihat sub bab per materi dengan
jumlah pertanyaan yang lumayan banyak. Tapi, setelah bertekad ingin segera
menyelesaikan, ditambah pula dengan dukungan semangat sesama rekan CGP lainnya,
jadilah saya mulai mengerjakannya walaupun terseok-seok dengan selingan tugas
mengajar yang juga tak mau kalah saing.
Melihat konten
materi yang tersedia di modul 1.4 ini, beberapa hal nyatanya sudah ada yang
aplikasikan. Tetapi, masih belum sesuai dengan uraian yang ada dalam modul.
Misalnya dalam hal posisi kontrol. Bila saya evaluasi terhadap diri sendiri, 4 dari 5 posisi kontrol tersebut secara
bergantian pernah saya perankan secara bergantian pada saat melaksanakan
disiplin positif kepada murid. Tentunya, setelah tahu bahwa ada posisi kontrol
manajer yang lebih baik dari keempat posisi sebelumnya, saya pun berusaha untuk
menerapkannya pada diri sendiri. Tujuannya, agar murid benar-benar secara
naluriah mereka untuk melakukan disiplin positif dari faktor internal diri,
bukan karena pengaruh eksternal, dengan tetap memperhatikan kodrat alam dan
kodrat zamannya. Hal ini juga sejalan dengan filosofi pemikiran Ki Hajar
Dewantara.
Selain itu,
ilmu yang sangat bermanfaat ini saya kira alangkah baiknya bila dipelajari pula
oleh rekan-rekan sejawat lainnya. Pada bagian ini CGP bisa mengaplikasikan
nilai-nilai dan perannya sebagai Guru Penggerak. Untuk bisa mewujudkannya ke
dalam kehidupan secara nyata, saya sebagai CGP bisa merancang langkah-langkah
tersebut dengan mimpi yang dicanangkan melalui visi hingga akhirnya tertuang
rapi pada alur BAGJA.
Jadi, sedari awal modul 1.1 hingga modul 1.4, tak bisa terpisahkan. Mereka selalu ada dalam alur perjalanan CGP untuk mewujudkan kemerdekaan belajar bagi anak-anak Indonesia sesuai Impian besar Ki Hajar Dewantara.
- Buatlah sebuah refleksi dari pemahaman Anda atas
keseluruhan materi Modul Budaya Positif ini dengan menjawab
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep
inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori
kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi
kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga
restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?
Saya sangat
takjub dengan konsep-konsep yang disajikan pada modul ini. Keseluruhan modul
yang dipelajari, sejujurnya secara sekilas bukanlah hal baru bagi kita yang
memiliki profesi sebagai guru. Hanya saja, pengetahuan yang ada dalam diri kita
tak selengkap seperti yang dimiliki pada modul 1 ini. Dan dari materi-materi
tersebut, justru membuat saya menjadi lebih percaya diri di kelas. Di beberapa
hal, ada bagian yang mungkin masih keliru saya lakukan di keseharian. Tetapi,
setelah mempelajarinya, saya bertekad kembali untuk memperbaiki diri menjadi
lebih baik dari sebelumya.
- Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda
dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah
mempelajari modul ini?
Perubahan cara
berpikir yang ikut mempengaruhi ke arah kebih baik mengenai menciptakan positif
di kelas yaitu saya menjadi lebih percaya diri untuk mengajak rekan sejawat
hingga berisaha untuk lebih bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan.
Selain itu, sikap saya kepada murid pun turut saya evaluasi. Karena saya
sendiri takut apabila tindakan saya justru berseberangan dengan keberpihakan
kepada murid yang sesuai dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara.
- Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda
alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik
di lingkup kelas maupun sekolah Anda?
Pengalaman
yang pernah terjadi terkait penerapan konsep-konsep yang terdapat pada modul
1.4 mengenai budaya positif misalnya dalam hal mengambil kesempatan dalam
kesepakatan kelas. Meskipun sudah melakukannya di waktu-waktu sebelumnya,
tetapi masih belum baik. Jadi, pikiran saya pun menjadi terbuka lebar untuk
mengevaluasi kekurangan yang mungkin masih belum sesuai dengan isi materi yang
ada pada modul 1.4 ini. Masih ada selipan berupa hukuman dalam kesepakatan
tersebut. Meskipun sebenarnya tujuan dari hukuman itu bukanlah yang utama,
tetapi memang alangkah baiknya bila tidak disebutkan secara gamblang. Namun di
sisi lain, bila tidak dinyatakan dengan tegas, ada keraguan kepada murid. Bisa
saja mereka menganggap tidak serius dengan kesepakatan yang telah dibuat.
- Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal
tersebut?
Ada perasaan
yang campur aduk didalamnya. Terutama terkait hukuman atau konsekuensi apabila
mereka melanggar kesepakatan yang telah diputuskan bersama. Harapan yang
diimpikan pastinya semua bisa berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana,
tetapi di perjalanan, nyatanya bisa berbeda 180°.
- Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan
konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu
diperbaiki?
Penerapan-penerapan
konsep mengenai hal ini memang memiliki banyak cerita. Salah satunya terkait
dengan bagaimana murid bisa mengungkapkan pendapat mereka. Belum lagi, saat
memberikan masukan untuk uraian mengenai apa saja yang boleh dan yang dilarang
untuk dilakukan, masih dominan dilakukan oleh guru. Masih sedikit sekali
persentase di mana murid mengeluarkan pendapatnya. Mereka seolah lebih menerima
saja apa yang diajukan, kemudian menyetujuinya. Sudah pasti hal seperti ini
harus diperbaiki. Guru harus bisa proaktif memancing murid untuk berani
mengungkapkan pendapat mereka sendiri untuk bisa mendapatkan kenyamanan saat
belajar tetapi juga tetap disiplin mematuhi aturan yang ada. Meski begitu, di
balik itu semua, penerapan disiplin positif sampai dengan restitusi di sekolah
setidaknya bisa membantu menerapkan disiplin dan mewujudkan ke arah sekolah
ramah anak. Tinggal ketegasan, komitmen, dan kolaborasi antar sesama warga
sekolah saja yang harus diperkuat supaya proses penerapan ini berjalan dengan
maksimal.
- Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi
dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling
sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah
mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana
perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?
Sebelum
mempelajari modul 1.4 terutama materi mengenai 5 posisi kontrol, rasanya saya
sudah menerapkan 4 posisi kontrol dalam keseharian. Namun, yang biasanya sering
saya gunakan ialah posisi sebagai teman dan pemantau. Ketika saya menerapkan
posisi ini kepada murid, yang ada dalam pikiran saya ialah bagaimana menjadi
guru yang bisa merangkul mereka tanpa menghakimi dan tetap membuat murid merasa
nyaman. Hanya saja, beberapa murid ada yang ‘ketergantungan’. Setelah saya
mempelajarinya, tetu saja saya ingin berada di posisi manajer. Meskipun sekilas
hampir mirip perlakuannya dengan posisi kontrol pemantau, tetapi ada keinginan
lebih supaya murid bisa bertanggung jawab, mandiri, serta bisa menjadi dirinya
sendiri. Selain itu, dengan berada di posisi manajer ini, murid bisa belajar
mengevaluasi dirinya sendiri.
- Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda
menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda?
Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda
mempraktekkannya?
Bila saya
mengevaluasi diri terkait dengan penerapan segitiga restitusi dalam keseharian,
rasanya saya telah melakukan tahapan segitiga restitusi tersebut. Hanya saja,
tidak menyadarinya. Tetapi, sebagian besar tahapan yang sering saya lakukan
justru langsung masuk ke bagian validasi tindakan yang salah dan menanyakan
keyakinan. Bagian menstabilkan identitas lebih banyak terlewatkan. Kalau pun
ada saya menggunakannya, tetapi alur tahapannya terbalik. Jika seharusnya
berada di posisi pertama, saya justru malah melakukan bagian itu pada posisi
kedua setelah memvalidasi tindakan murid yang salah.
- Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul
ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam
proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
Hal-hal lain yang menurut saya perlu dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif di lingkungan kelas maupun lingkungan sekolah ialah mengenai bagaimana cara untuk tetap konsisten dalam pelaksanaannya. Karena, hal yang seperti ini sangat rentan sekali. Bila kesepakatan telah dirumuskan, dalam perjalanannya, meskipun belum lama diterapkan, bisa saja terjadi perubahan. Perubahan ini pun terkadang terjadi karena suatu kepentingan pribadi atau ego diri. Ini sangat penting untuk dikaji lebih lanjut, bagaimana agar sesuatu yang telah dirumuskan bersama tidak semena-mena berubah hanya karena kepentingan oknum-oknum tertentu.
Berikut ini juga akan saya tampilkan tampilan rancangan aksi nyata:
Demikianlah sajian koneksi antar materi untuk modul 1.4 kali ini. Semoga dapat memberikan manfaat bagi rekan guru lain yang sekiranya membutuhkan contoh atau acuan untuk pengerjaan tugas yang sama.
Mari bersama untuk saling tergerak, bergerak, dan menggerak!
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar
Posting Komentar