Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Izinkan saya Patrisia Merly, S.Pd. untuk berbagi kepada teman-teman guru hebat semua mengenai materi yang saya peroleh dalam kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP).
Kita sering mendengar kata ‘pengajaran’ dan ‘pendidikan’. Secara umum, banyak yang menganggap bahwa ini adalah dua hal yang sama. Namun nyatanya, dua kata tersebut pada dasarnya memang memiliki arti berbeda. Pengajaran sendiri masuk dalam lingkup pendidikan, maksudnya pengajaran adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah untuk hidup anak-anak, baik itu secara lahir maupun batin. Sedangkan pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya yaitu pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Pendidikan
diibaratkan sebagai tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup
dalam masyarakat kebangsaan. Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini menegaskan bahwa
pendidikan dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang utuh. Pendidikan juga
merupakan landasan pembentukan peradaban bangsa. Artinya, suatu bangsa yang
besar dan maju bisa jadi karena pendidikannya juga berjalan baik. Ki Hajar
Dewantara sangat memperhatikan kondisi atau kodrat anak yang menjadi objek
langsung sebuah pendidikan. Pendidikan bukanlah sebuah hal yang statis atau
tanpa pergerakan. Sejatinya, pendidikan itu harus mengikuti perkembangan zaman
atau lebih dikenal dengan kodrat zaman. Selain itu, hal yang lebih penting dari
pendidikan juga harus memperhatikan kondisi atau lingkungan tempat anak-anak
tinggal atau kodrat alamnya.
Teman-teman
guru hebat semua,
Kembali
saya mengingatkan bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai dasar pendidikan
yang harus kita pahami sebagai guru yaitu menuntun anak-anak selamat dan
bahagia sebagai manusia dan anggota masyarakat. Kondisi ini tertuang pada
semboyan yang sudah lumrah kita ketahui Bersama, yaitu “Ing ngarso sung tulodo
(di depan memberikan contoh), ing madya mangun karso (di tengah membangun
motivasi), tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan semangat).” Dari
semboyan tersebut, Ki Hajar Dewantara ingin menyampaikan bahwa guru harus bisa
menjadi teladan bagi muridnya, mampu memberikan motivasi agar murid dapat terus
maju, serta guru tak berhenti memberikan semangat kepada murid dalam menentukan
pilihan.
Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas
sebelum Anda mempelajari modul 1.1?
Menurut
pandangan saya, murid bukan hanya sekedar seorang anak yang datang ke sekolah,
kemudian duduk manis mendengarkan setiap uraian atau penjelasan dari guru
seputar materi pelajaran. Murid bukanlah sebuah robot yang diprogram untuk
menjalani semua perintah dari guru. Di antara satu murid dan lainnya, mereka
memiliki karakter yang berbeda. Terkait hal ini, saya sendiri sudah pernah
mencari tahu mengenai tipe-tipe murid berdasarkan gaya belajarnya. Meskipun
gaya belajar murid tidak sepenuhnya merefleksikan bagaimana karakter mereka,
namun setidaknya apa yang pernah saya pelajari ini dapat membantu saya dalam
menentukan metode dan model pembelajaran di kelas.
Selain
itu, di sisi lain, saya masih sedikit memaksakan murid untuk bisa menyelesaikan
materi sesuai dengan target. Penilaian mengenai pengetahuan murid hanya
dititiberatkan pada ketuntasan mereka dari segi nilai yang telah memenuhi batas
minimum. Sehingga hal tersebut membuat murid menjadi terbebani dan bisa membuat
murid menjadi kurang nyaman saat mengikuti pembelajaran di kelas.
Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah
mempelajari modul ini?
Setelah
saya mempelajari modul ini, meskipun secara garis besar apa yang telah saya
lakukan sehari-hari dalam kegiatan pembelajaran tidaklah sepenuhnya menyalahi
tuntunan yang ada, tak di nyana, materi dalam modul 1.1 memperkuat pengetahuan
yang sebelumnya telah saya dapatkan. Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang
memimpikan bahwa anak-anak dapat belajar sesuai dengan kodratnya, semakin
membuat saya percaya diri dan akan terus meng-upgrade pengetahuan diri
lebih banyak lagi agar dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara seputar
pendidikan tidak menjadi sia-sia. Yang awalnya saya masih takut-takut atau
ragu-ragu untuk membuat anak belajar mengeksplorasi kemampuan mereka, justru
setelah mempelajari modul 1.1, saya ingin anak-anak lebih berani untuk menggali
dan menemukan bakat yang ada pada dalam diri masing-masing.
![]() |
| https://www.youtube.com/watch?v=0VZa1sOCieo |
Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda
mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara?
Hal yang harus segera saya terapkan setelah mempelajari konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu saya harus lebih berani dan percaya diri dalam menentukan konsep pembelajaran yang aktif, inovatif, dan menyenangkan. Mencoba menerapkan berbagai metode belajar kepada anak-anak yang bukan hanya berpaku pada teacher center tetapi student center, membuat suasana belajar yang ‘hidup’ sehingga anak-anak nyaman dan tanpa ada perasaan terbebani ketika mengikuti pelajaran di kelas.
![]() |
Salam guru penggerak!
Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.




keren sekali Ibu, selamat Ibu atas pola pikir yang sudah dapat merefleksi pemikiran KHD terkait pendidikan. Semoga melalui PGP kita dapat menjadi guru pembelajaran yang terus ingin mencari tahu dan berusaha bagaimana menuntun, membelajarkan murid dalam suasana yang menyenangkan. Dengan demikian diharapkan muncul dan terasah kodrat alam mereka serta memberi peluang untuk tumbuh maksimal sesuai dengan kodrat jaman yang sedang bergulir di sekitar mereka. amin.
BalasHapusterima kasih atas kunjungan dan apresiasinya :)
BalasHapus