Langsung ke konten utama

Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Izinkan saya Patrisia Merly, S.Pd. untuk berbagi kepada teman-teman guru hebat semua mengenai materi yang saya peroleh dalam kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP). 


Kita sering mendengar kata ‘pengajaran’ dan ‘pendidikan’. Secara umum, banyak yang menganggap bahwa ini adalah dua hal yang sama. Namun nyatanya, dua kata tersebut pada dasarnya memang memiliki arti berbeda. Pengajaran sendiri masuk dalam lingkup pendidikan, maksudnya pengajaran adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah untuk hidup anak-anak, baik itu secara lahir maupun batin. Sedangkan pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya yaitu pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Pendidikan diibaratkan sebagai tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini menegaskan bahwa pendidikan dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang utuh. Pendidikan juga merupakan landasan pembentukan peradaban bangsa. Artinya, suatu bangsa yang besar dan maju bisa jadi karena pendidikannya juga berjalan baik. Ki Hajar Dewantara sangat memperhatikan kondisi atau kodrat anak yang menjadi objek langsung sebuah pendidikan. Pendidikan bukanlah sebuah hal yang statis atau tanpa pergerakan. Sejatinya, pendidikan itu harus mengikuti perkembangan zaman atau lebih dikenal dengan kodrat zaman. Selain itu, hal yang lebih penting dari pendidikan juga harus memperhatikan kondisi atau lingkungan tempat anak-anak tinggal atau kodrat alamnya.

Teman-teman guru hebat semua,

Kembali saya mengingatkan bahwa pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai dasar pendidikan yang harus kita pahami sebagai guru yaitu menuntun anak-anak selamat dan bahagia sebagai manusia dan anggota masyarakat. Kondisi ini tertuang pada semboyan yang sudah lumrah kita ketahui Bersama, yaitu “Ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan contoh), ing madya mangun karso (di tengah membangun motivasi), tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan semangat).” Dari semboyan tersebut, Ki Hajar Dewantara ingin menyampaikan bahwa guru harus bisa menjadi teladan bagi muridnya, mampu memberikan motivasi agar murid dapat terus maju, serta guru tak berhenti memberikan semangat kepada murid dalam menentukan pilihan.

Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda mempelajari modul 1.1?

Menurut pandangan saya, murid bukan hanya sekedar seorang anak yang datang ke sekolah, kemudian duduk manis mendengarkan setiap uraian atau penjelasan dari guru seputar materi pelajaran. Murid bukanlah sebuah robot yang diprogram untuk menjalani semua perintah dari guru. Di antara satu murid dan lainnya, mereka memiliki karakter yang berbeda. Terkait hal ini, saya sendiri sudah pernah mencari tahu mengenai tipe-tipe murid berdasarkan gaya belajarnya. Meskipun gaya belajar murid tidak sepenuhnya merefleksikan bagaimana karakter mereka, namun setidaknya apa yang pernah saya pelajari ini dapat membantu saya dalam menentukan metode dan model pembelajaran di kelas.

Selain itu, di sisi lain, saya masih sedikit memaksakan murid untuk bisa menyelesaikan materi sesuai dengan target. Penilaian mengenai pengetahuan murid hanya dititiberatkan pada ketuntasan mereka dari segi nilai yang telah memenuhi batas minimum. Sehingga hal tersebut membuat murid menjadi terbebani dan bisa membuat murid menjadi kurang nyaman saat mengikuti pembelajaran di kelas.

Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?

Setelah saya mempelajari modul ini, meskipun secara garis besar apa yang telah saya lakukan sehari-hari dalam kegiatan pembelajaran tidaklah sepenuhnya menyalahi tuntunan yang ada, tak di nyana, materi dalam modul 1.1 memperkuat pengetahuan yang sebelumnya telah saya dapatkan. Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang memimpikan bahwa anak-anak dapat belajar sesuai dengan kodratnya, semakin membuat saya percaya diri dan akan terus meng-upgrade pengetahuan diri lebih banyak lagi agar dasar-dasar pemikiran Ki Hajar Dewantara seputar pendidikan tidak menjadi sia-sia. Yang awalnya saya masih takut-takut atau ragu-ragu untuk membuat anak belajar mengeksplorasi kemampuan mereka, justru setelah mempelajari modul 1.1, saya ingin anak-anak lebih berani untuk menggali dan menemukan bakat yang ada pada dalam diri masing-masing. 

https://www.youtube.com/watch?v=0VZa1sOCieo 
Tak sampai di situ saja, saya juga harus lebih memperhatikan lagi aspek pembelajaran seperti kognitif, psikomotor, afektif, spiritual, sosial, dan budayanya. Dengan begitu, konsep pembelajaran yang mandiri dan menyenangkan bisa dicapai dengan baik. 

Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara?

Hal yang harus segera saya terapkan setelah mempelajari konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu saya harus lebih berani dan percaya diri dalam menentukan konsep pembelajaran yang aktif, inovatif, dan menyenangkan. Mencoba menerapkan berbagai metode belajar kepada anak-anak yang bukan hanya berpaku pada teacher center tetapi student center, membuat suasana belajar yang ‘hidup’ sehingga anak-anak nyaman dan tanpa ada perasaan terbebani ketika mengikuti pelajaran di kelas.  


Demikianlah kesimpulan dan refleksi yang dapat saya bagikan kepada teman-teman guru hebat. Semoga kita semua mampu menjadi guru yang terus mampu menuntun anak-anak didik kita untuk meraih masa depan cerah.

Salam guru penggerak!

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Komentar

  1. keren sekali Ibu, selamat Ibu atas pola pikir yang sudah dapat merefleksi pemikiran KHD terkait pendidikan. Semoga melalui PGP kita dapat menjadi guru pembelajaran yang terus ingin mencari tahu dan berusaha bagaimana menuntun, membelajarkan murid dalam suasana yang menyenangkan. Dengan demikian diharapkan muncul dan terasah kodrat alam mereka serta memberi peluang untuk tumbuh maksimal sesuai dengan kodrat jaman yang sedang bergulir di sekitar mereka. amin.

    BalasHapus
  2. terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rangkuman Materi Modul 3.1 (Koneksi Antar Materi)

Bacalah kutipan ini dan tafsirkan apa maksudnya: “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” (Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best). Bob Talbert Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini? Hal yang saya pelajari dari kutipan tersebut adalah kita diingatkan bahwa seorang anak memang perlu mempelajari ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mampu membantunya untuk bertahan hidup di dalam masyarakat, seperti misalnya kemampuan berhitung. Tetapi, selain pengetahuan dan keterampilan, sejatinya ada hal yang lebih utama dari 2 hal tersebut, yaitu etika atau moralnya sebagai manusia yang sesungguhnya. Kaitannya dengan materi kali ini yaitu di mana seorang manusia yang menjadi pemimpin harus memiliki kemampuan dalam beretika dan bermoral yang baik. Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dala...

Koneksi Antar Materi - Modul 1.3

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Rekan guru semua, kali ini saya akan menjabarkan mengenai penugasan untuk modul 1.3 yaitu Koneksi Antar Materi (KAM) 1.3. Pada bagian ini, CGP diminta untuk merefleksikan dan mengaitkan pemahaman antar modul  yang telah dipelajari hingga kini, dengan merespon pertanyaan berikut ini: