Langsung ke konten utama

Ga Punya Medsos? Emang salah?!

Sumber: IDN Times
Jadi ingat kejadian beberapa minggu lalu, ketika ada telepon masuk yang mengatasnamakan sebuah lembaga trus ngajak bisnis gitu via media sosial. Meskipun saat itu sedang diburu waktu karena sebuah kegiatan, entah mengapa aku lagi baik hati aja mau nerima telpon dari nomor asing. Pertimbangannya cuma satu, mungkin dari wali murid atau ada perlu penting lainnya. Tapiii, pas udah diangkat dan suara penelopon nyerocos panjang lebar, terakhir aku cuma bisa jawab satu pertanyaan yang kemudia malah bikin dia ngomel terus menutup sambungan telepon. "Jadi, nanti Ibu bisa lakukan bisnis ini via medsos. Gimana, Bu? Minat untuk bergabung?" 

Ga ada yang salah dengan pertanyaan itu, kemudian, aku rasa juga ga ada yang salah dengan jawaban yang aku kasih. Aku hanya menjawab, "Tapi saya ga punya akun medsos, Mbak." Jawaban yang sangat santai. Bukan maksud menolak kerjasamanya, tapi emang kenyataan yang ada, aku ga punya medsos selain akun Yutub. Tanpa disangka, si penelepon malah ngomel dan bilang aku pembohong! Heloooooo, emang kalo ngaku ga punya akun semisal igeh, toktok, tweter, atau pesbuk itu, langsung bisa dicap pembohong?!

Kalo dia minta akun yang seperti itu, asli, sumpah, beneran deh, aku ga punya! Oke, dulu aku pernah punya akun-akun kek begituan. Tapi untuk saat ini, semua akun itu udah musnah, nonaktif! Kalo dia mau, silakan kasih id yutubnya, sini biar tak laik, subskreb, ama komen. Ini malah ngatain orang pembohong! Emang harus apa zaman sekarang wajib punya semua akun medsos?? Ga dong! Segala sesuatu itu kan tergantung pribadinya. Lah aku merasa udah ga terlalu butuh tuh ama akun-akun begituan. Mau dikata ga gaul kek, nanti kudet lah, apalah, terserah! Justru aku bisa merasa lebih nyaman kok tanpa harus punya semua akun itu. 

Iya, bener. Ada banyak kok manfaat yang bisa kita dapatkan dari memiliki akun media sosial. Aku juga ga memungkirinya. Tapi jangan lupa, sisi negatifnya juga banyak. Sebanding kok. Malah kalo salah dalam penggunaannya, bisa lebih berat negatif daripada positifnya. Contoh, kamu upload foto yang kurang sopan, kurang sedap dipandang mata, terkesan seksi, erotis, dan sodara-sodaranya. Nah, itu yang ada malah dosa yang bakal terus mengalir buat kamu selama foto itu nampang di medsos. Belum lagi kadang kala kita posting apa yang kita punya. Pasti dihati k,ecil ada terbersit niat biar orang-orang pada tau. Nah itu namanya pamer/riya'. Dosa juga itu.

Tapi balik lagi sih. Semua emang tergantung niat. Balik-balik kesitu sih asal muasalnya. Sisi positifnya juga banyak. Ada yang posting bagi-bagi info, ilmu, pepatah, kata mutiara, nasihat, dan sebagainya. Nah, kalo ada liat yang kek gini, jangan pula malah kita anggap orang yang posting sok pinterlah, sok alimlah, sok bijaklah. Jangan!

Yang jelas nih ya, walopun ini udah masuk tahun 2024, sampai saat ini aku masih setia ga mau lagi punya akun medsos. Walopun kadang suka pasang surut juga rayuan yang menerpa, tapi alhamdulillah, masih bertahan untuk tetap ga mau punya akun medsos. Kenapa? Banyak yang bertanya seperti itu. Banyak juga yang kecewa dengan mengatakan bahwa ga bisa lagi melihat perkembangan berita tentang kehidupanku dari akun medsosku. Intinya, aku ga nyaman ketika aku memiliki akun. Hidupku serasa dimata-matai. Jadi akhirnya, semua akun aku nonaktifkan. 

Dari pada mantau kehidupanku dari medsos, mending langsung kontak aja. Telepon kek, atau sekedar kirim pesan lewat wa atau tele, pasti aku ladenin. Jadi, jangan lagi bilang aku pembohong cuma karna ga punya akun medsos ya. Kalo ga percaya, sok lah cari, nemu ga akun atas nama aku? Kalo modelan blog, yutub, atau linkin, itu ga sama yah dengan medsos yang aku maksud. Paham kan? :p


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Izinkan saya Patrisia Merly, S.Pd. untuk berbagi kepada teman-teman guru hebat semua mengenai materi yang saya peroleh dalam kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP).  Kita sering mendengar kata ‘pengajaran’ dan ‘pendidikan’. Secara umum, banyak yang menganggap bahwa ini adalah dua hal yang sama. Namun nyatanya, dua kata tersebut pada dasarnya memang memiliki arti berbeda. Pengajaran sendiri masuk dalam lingkup pendidikan, maksudnya pengajaran adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah untuk hidup anak-anak, baik itu secara lahir maupun batin. Sedangkan pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maksudnya yaitu pendidikan menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Koneksi Antar Materi - Modul 1.3

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Rekan guru semua, kali ini saya akan menjabarkan mengenai penugasan untuk modul 1.3 yaitu Koneksi Antar Materi (KAM) 1.3. Pada bagian ini, CGP diminta untuk merefleksikan dan mengaitkan pemahaman antar modul  yang telah dipelajari hingga kini, dengan merespon pertanyaan berikut ini:

Refleksi Dwi Mingguan - 4: Model 4C (Connection, Challenge, Concept, Change)

Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Kembali bertemu dengan penugasan jurnal refleksi dwi mingguan. Pada sesi kali ini, saya tertarik mencoba salah satu model dari 9 model yang disajikan untuk mengerjakan tugas refleksi dwi mingguan ini. Model yang saya ambil yaitu model 4C ( Connection, Challenge, Concept, Change ). Sebagai alat bantu pengerjaan, akan saya tampilkan pertanyaan-pertanyaan pemandunya. 1)         Connection : Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak? Keterkaitan materi yang saya dapatkan pada modul 1.4 merupakan hal yang sangat positif bagi saya sebagai seorang Calon Guru Penggerak. Pada materi budaya positif ini, banyak hal keliru yang sebelumnya saya ketahui justru bisa diluruskan pemahamannya setelah mempelajarinya di modul ini. Maka dari itu, sebagai Calon Guru Penggerak sangat perlu mendapatkan materi yang disajikan di modul 1.4.   2)     ...