![]() |
| dok. Meldepuratum |
Hari itu, wajib hukumnya untuk berkeliling meskipun hanya satu putaran. Jadilah akhirnya pergi dari rumah dengan tekad yang bulat buat jalan pagi –tapi nyatanya sudah kesiangan- keliling Kebun Raya Bogor.
Di hari sebelumnya, sudah ada niat kompakan
bareng ponakan serta kakak tersayang buat jalan bareng menikmati kembali
suasana Bogor. Bagiku, sudah terlalu lama aku tidak merasakan hiruk pikuk kota
hujan ini. Penasaran, apa mungkin jumlah angkotnya udah berkurang atau malah
semakin bertambah sejak adanya transportasi online.
Kalo diperhatikan lagi, sepertinya hanya berpengaruh sedikit saja. Nyatanya,
masih cukup banyak angkot yang berseliweran. Meskipun untuk data valid, mungkin
harus bertanya ke Dinas Perhubungan mengenai jumlah angkot yang beroperasi di
kota itu.
Perjalanan yang dilalui kali ini, sepertinya
sudah hampir mencapai garis finish. Mungkin,
sudah sekitar tiga per empat area Kebun Raya dikelilingi. Dimulai dari pintu 3
KRB yang letaknya bersebrangan dengan Plaza Pangrango, terus menyusuri jalan ke
arah lapangan Sempur, trus mendaki menuju ke arah kantor POS.
Berhubung sebelum berangkat tadi tenaga belum
diisi dengan maksimal, jadilah berhenti di kantin yang berada pas di depan
pintu 2 KRB. Pintu itu sendiri sudah lama tidak dibuka. Apalagi semenjak
pandemi melanda. Judulnya mau bakar lemak, tapi kenyatannya menimbun lemak
kembali. Ah sudahlah!
Berbeda dengan perjalanan di awal yang lebih
banyak harus menahan badan supaya jangan jatuh berguling-guling, kali ini jalur
tempuhnya sedikit berat karena harus menapaki jalur mendaki. Hingga akhirnya
mengambil napas sejenak di pertigaan Tugu Kujang.
Maklum, namanya juga pelancong. Sifat udiknya
merayap ke ubun-ubun. Ambil posisi, arah gaya kiri-kanan, kamera mulai beraksi.
Sudah tak peduli lagi dengan padatnya lalu lintas yang ada, tak peduli pula
dengan berpuluh pasang mata yang melihat ke arah model dadakan pinggir jalan. Alasannya
hanya satu, “Kan gue udah lama ga ke sini. Boleh dong dokumentasi dikit.” Anak
pintar!
Sayangnya, Tugu Kujang tak lagi menjadi
monumen ‘gagah’ kota Bogor. Sebuah bangunan tinggi menjulang menutupi aura
garangnya. Semasa aku tinggal di sana dulu, bangunan itu belum ada. Setelah belasan
tahun tak tinggal lagi dan tak sempat pula berkunjung, ternyata inilah sesuatu yang
telah mengubah kota hujan ini dengan sangat kentara. Bukan jumlah angkotnya,
tapi keagungan Tugu Kujang yang kalah saing tertutupi bangunan tinggi menjulang
tepat dihadapannya.
#tantanganmenulis21hari
#tantanganedisiJuli-Agustus
#1jalan
#KKKreatifWritersClub

Komentar
Posting Komentar