![]() |
| dok. Dira Erya |
Saat sedang sendiri, yang ditanya kapan punya pacar. Ketika pacar sudah dikenalkan, mulai ditanya kapan nikah. Setelah itu, ditanya kapan punya anak. Setelah punya anak, kok ga nambah? Pas udah nambah, mulai komplain bilangnya kebanyakan, tar susah ngurusnya. Eh, maunya situ apa sih?
Pertanyaan-pertanyaan yang ringan
untuk diucapkan namun bisa kembali menjadi bumerang bagi si penanya sendiri. Bagi
yang bisa memaklumi, dia bisa menjawab penuh kesabaran. Menguraikan seribu satu
alasan hanya untuk mencoba menyenangkan si penanya. Tapi sayang, makin lama,
malah makin tak berperasaan. Apa kalian sadar?
“Ah, ini kan bukti bahwa kami
perhatian sama kamu. Makanya kami tanyain.” Pertanyaannya, yakin itu bentuk
perhatian? Bentuk kepedulian? Setulus itukah? Atau hanya sebagai alibi saja
karena terlalu ingin tahu dengan urusan orang?
Bagi beberapa orang yang sudah
terlalu jengah dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama, biasanya untuk waktu
selanjutnya, dia akan menghindari si penanya. Terserah, mau itu adalah orang
yang paling disegani pun, sudah pasti tidak akan ditemui. Bila keberadaan dia
dalam keluarga adalah orang yang paling dihargai, tapi mengapa dia tidak bisa
menghargai keadaan lawan bicaranya?
Kondisi psikis masing-masing
orang itu berbeda. Ingat! Sekalipun mereka adalah anak kembar, bukan berarti
sikap dan sifat mereka akan sama pula. Cobalah dimengerti. Adakalanya seseorang
yang diam bukan berarti tak mau menjawab, tapi ada hal-hal yang sekiranya tak
ingin dia bagi ke orang lain. Menurutnya, itu cukup menjadi urusan dia sendiri.
Dan untuk si penanya, tolong! Tolong jangan terlalu banyak meluncurkan amunisi
pertanyaan basa-basi yang justru nanti malah bisa membuat hancur diri sendiri.
#tantanganmenulis21hari
#tantanganedisiJuli-Agustus
#7pertanyaan

Komentar
Posting Komentar