![]() |
dok. tangkapan layar gawai sendiri |
Tapi ternyata, percakapan kami justru menjurus ke hal lain. Demi
menghapus rasa kecewaku karena gagal mendapatkan foto hujan salju, kami justru
membahas tentang kopi. Ya, aku tau, dia sangat mencintai kopi. Kebetulan,
status WA-nya menampilkan tentang itu. Niat usilku muncul. Mulailah aku
bertanya mengenai pendapatnya tentang cita rasa kopi yang ada di sana.
“Mana enak sama kopi di SS?” Pertanyaan itu muncul begitu
saja. Tampilan foto di status WA-nya membuat aku teringat dengan sajian kopi di
salah satu kafe kopi yang biasa kami kunjungi bersama ketika ia masih tinggal
di negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Di luar dugaan, ternyata kopi sajian
Indonesia tak terkalahkan rasanya, menurutnya.
“Kopi di sini itu kebanyakan dari jenis Arabica. Kalo kita
di Indonesia, kopinya itu dominan jenis Robusta. Rasanya lebih pahit, kafeinnya
lebih berasa nendangnya.”
Oh, aku baru tau. Ternyata itu alasan yang membuat dirinya
selalu merasakan rindu akan cita rasa kopi Indonesia. Sekali waktu, aku memang
suka menjahilinya dengan mengirimkan foto-foto ketika sedang kumpul dengan teman-teman
lain di kafe kopi kesayangan kami. Kopi, cemilan, dan obrolan bebas sesuka
hati. Rasanya benar-benar perpaduan yang sangat pas untuk menikmati waktu
senggang berkumpul bersama teman. Apalagi jika ditambah dengan suasana ketika
hujan. Membuat cuaca yang dingin di luar, justru terasa hangat di dalam
kebersamaan.
#tantanganmenulis21hari
#tantanganedisiJuli-Agustus
#10hujan

Komentar
Posting Komentar