Langsung ke konten utama

Ga Sengaja Prom Night

 

dok. OSIS IAF

“Ibu, emang sekolah kita ngizinin ya kalo bikin acara perpisahan malam-malam?”

Mendengar pertanyaan itu, aku hanya bisa mengerutkan dahi. Tak pernah dalam sejarah di lembaga pendidikan tempat aku mengabdi akan mengizinkan acara perpisahan malam hari alias prom night.

Bernaung di lembaga pendidikan yang berlabel “Islam”, bukan hal mudah untuk mewujudkan kegiatan yang dilakukan pada malam hari. Apalagi kegiatan perpisahan. Bayangan akan acara yang hingar bingar, full music, bahkan mungkin pake ada acara rangkulan segala antara lawan jenis, belum lagi saat ini masih dalam kondisi pandemi, aduuuhh... ampun! Tidak boleh! Sudah pasti itu jawabannya.

Aku paham, mereka pasti iri dengan sekolah lain yang pernah mengadakan acara serupa itu. Tapi sayang sekali, hal yang demikian terlalu tabu untuk kami. Jadi, lupakan saja ide mustahil itu.

Tapi...

Sepertinya mereka punya rayuan yang cukup kuat kepada-Nya. Tanpa sengaja, akhirnya prom night yang mereka impikan benar-benar terjadi. Hanya saja, dalam versi yang berbeda.

Berhubung tahun ini ujian akhir dilaksanakan pada bulan puasa, maka sekolah tetap akan memberikan acara kenangan terakhir bagi siswa kelas XII. Memang tidak ada acara perpisahan megah seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya ada kegiatan berbuka bersama lalu ditutup dengan menonton video akhir sekolah yang telah mereka produksi beberapa bulan sebelumnya.

Suasananya cukup romantis. Di malam hari pertengahan bulan puasa, ditemani dengan bintang-bintang yang bertaburan di langit, belum lagi kerlap-kerlip cahaya lampu yang ikut meramaikan. Durasi acara tak berlangsung lama. Sebelum salat tarawih dilaksanakan, semua sudah harus bubar. Rencana awalnya demikian. Tapi kenyataannya, sedikit molor waktu. Ternyata, mereka ingin menikmati masa-masa akhir sebagai siswa sekolah menengah atas.

Sebuah kejutan kecil sebenarnya sudah mereka persiapkan sebelum ujian sekolah dimulai. Tapi sayangnya, rencana mereka sudah terbaca oleh walikelas yang sedikit edan ini.

“Ibu tau ga? Buket bunga ini udah dipesan dari 2 minggu yang lalu. Mau ngasihnya pas sebelum ujian. Eh, ibu sibuk. Trus, ngilang. Ga jadi deh dikasihnya,” suara centil si anak manja Ibu berceloteh. Tapi, sepertinya itu malah seperti sebuah protes.

“Jadi, malam ini, kami persembahkan ini untuk Ibu.” Si bujang Ibu mewakili teman-teman satu kelas memberikan buket bunga -yang tertunda- kepada walikelasnya. Suasana sudah cukup mendukung romantisnya, sayang kurang alunan musik saja. Tapi, semua itu tak menyurutkan sebuah senyum sumringah untuk tetap mekar di wajah sang walikelas.  

Namun, ada sedikit rasa bersalah terpatri di hati sang walikelas ketika buket bunga telah berhasil mendarat di tangan. “Maaf ya, Nak, untuk kejutan kalian yang gagal. Tapi, siapa sangka kalo kalian dapat walikelas yang kelakuannya gilanya 11:12 dengan muridnya sendiri.” :D

#tantanganmenulis21hari

#tantanganedisiJuli-Agustus

#2senyum

Komentar